Selasa, 04 September 2012

Cerita Sex | Bersama Bapak Mertua

Cerita Sex Bersama Bapak Mertua - “Mas, cepat pulang, papa sakit lagi”, teriak istriku di ponsel ku setengah berteriak.
“oke, aku pulang”.....”Yantoo, kamu jagain bengkel ya, aku mau nganter mertua ke rumah sakit,’’ perintahku pada keponakan sekaligus asisten ku di bengkel yang aku kelola. “suruh si ujang beli makan siang sana,’’ perintahku lagi sembari menuju mobil. Aku melirik jam , menunjukan pukul 11.30.

“Papa udah dibawa ke rumah sakit sama pak Gondo dan Arif, mas”, ujar istriku setiba di rumah kemudian menyebutkan nama sebuah rumah sakit ternama di Jakarta langganan mertua jika berobat. Papa, biasa aku memanggilnya, sudah 3 tahun ini terkena gejala jantung. Umurnya sekitar 62 tahun, kesibukannya mengurus bisnis membuatnya melupakan kesehatannya, mana orangnya bandel lagi, gak mau pantangan.
“Terus aku ngapain neh?”, tanyaku pada isteri yang masih menggendong bayi mungilku yang baru berumur 4 bulan.

“mas jemput mama ke bandara sana, jam setengah 3 berangkat dari surabaya, tapi mas makan dulu deh”.
Usai makan siang, segera kusiapkan beberapa helai pakaian untuk berjaga-jaga jika terpaksa menginap, jarak Tangerang-Jakarta pusat kan cukup lumayan.
“aku berangkat dek, jagain rumah ya, aku munkin nginap seperti dulu waktu Papa diopname, kalau ada apa-apa sms atau suruh si Yanto aja,”.

Cerita Sex Bersama Bapak Mertua
Cerita Sex Bersama Bapak Mertua

“Hati-hati mas”,”mmmuaah...”setelah mencium anak dan istriku aku segera berangkat.
Jam menunjukan pukul 15.15, bentar lagi ibu mertua yang biasa kupanggil mama akan tiba. Mama seorang wanita yang enerjik dan pandai berwira usaha, hampir setiap minggu pergi ke berbagai daerah untuk berbisnis apa saja mulai dari garment sampai perhiasan. Usianya jauh lebih muda dari papa, sekitar 47 tahun.

“Gimana papa , Den?” Tanya mama dalam perjalanan ke rumah sakit.
“ya..biasa ma, sesak nafas, gejala serangan jantung, tapi udah ditungguin si Gondo & Arief, juga udah ditangani Dokter Farid langganan papa”, jawabku mencoba menenangkan mama.
Mama menarik nafas lalu berkata “syukurlah..moga gak apa-apa”.

Papa masih tidur ketika kami tiba di kamar rawat inapnya. Usai menjenguk papa di rumah sakit, kami lalu beristirahat di lobi. Rumah sakit ini bertaraf internasional, jadi kami tak perlu menunggui papa seharian, Gondo & Arif, supir dan karyawan papa menginap di hotel kelas melati dekat rumah sakit. Tinggal aku dan mama yang belum menentukan dimana harus menginap, tadinya aku juga ingin menginap di hotel yang sama, tapi untuk sekelas mama sepertinya kurang pantas, sialnya pula , kamar yang disewa karyawan papa itu adalah kamar terakhir yang masih kosong.

Beberapa saat kemudian aku dan mama memutuskan mencari hotel yang layak yang terdekat. Benar-benar sial, semua full booked, baru aku sadar sekarang liburan sekolah baru saja dimulai. Lama kami berputar-putar sampai akhirnya menjelang senja, kami mendapatkan sebuah hotel bintang 3 yang masih punya kamar kosong. Tapi keberuntungan belum berpihak pada kami, karena yang ada hanya tinggal satu-satunya kamar dengan single queen bed.

”Gimana ma? Apa kita cari lagi?” Tanyaku pada mama. Mama yang tampak lesu menjawab pasrah,”ya udah lah Den, mama juga udah capek, kita ambil aja, mama udah gak tahan...gerah”.
“oke deh pak, kita ambil, tapi bisa ngasih kasur tambahan gak?”, tanyaku pada resepsionis hotel yang sambil tersenyum ramah menjawab sambil menggelengkan kepala ,”maaf pak, itupun udah habis, ada yang satu kamar sampe minta 2. Kamar bapak pun kebetulan karena bookingnya dicancel, tapi kalau ada tamu yang checkout kami usahakan pak”, jawabnya sambil menyerahkan kunci kamar.

Kami bergegas menuju kamar hotel yang berada di lantai lima, didampingi porter yang membawa koper& barang-barang mama.
“wah, gimana nih ma, Deni jadi gak enak neh”, ujarku setibanya di dalam kamar hotel yang interiornya cukup mewah tesebut . “Ya apa boleh buat Den”, jawab mama tak bersemangat sembari membongkar isi kopernya. “Atau Deni pulang aja ma, besok pagi datang lagi”, ujarku lagi. ”jangan Den, entar kalau ada apa-apa terus gimana, ya udah kamu tidur di sini aja, kamu malu tidur sama mama?..ujar mama.

“ya udah deh, Deni tidur di sofa aja ma,”
“Ngapain? Kamu gak lihat ukuran sofanya segede apa? Udah kamu tidur di ranjang sama mama, kamu kan udah mama anggap anak mama sendiri, ngapain malu sih?”, jawab mama mencoba meyakinkanku. Apa boleh buat, pikirku. Aku cuma gak ingin mengganggu kenyamanan mama, dan rasanya risih juga tidur bareng ibu mertua. Bukan karena aku punya pikiran ngeres , walau harus diakui mama masih sangat menarik di usianya yang menjelang setengah abad, kulitnya kuning langsat dengan potongan tubuh masih ideal sebab mama rajin merawat diri dan olah raga, bisnis yang ia jalankan menuntutnya untuk tetap fit dan berpenampilan menarik. Jika disandingkan dengan istriku, lebih mirip adik dan kakak dibanding ibu dan anak.

“mama mandi dulu Den”, ujarnya. Aku mengangguk lalu menyalakan TV. Rasa lelah akibat seharian mengemudi membuatku mengantuk dan tertidur di atas sofa.
“Den..bangun Den, sana mandi”, aku terbangun gelagapan, mama berada dihadapanku masih mendorong-dorong pelan bahuku. Rambutnya terlilit handuk dan tubuhnya terbalut kimono tidur, namun karena posisinya setengah menunduk menampakan pemandangan belahan dadanya yang indah.

“eh...iya ma, sorry ma, ketiduran”,ujarku seraya bangkit menuju kamar mandi. Baru kusadari pintu kamar mandi ini adalah kaca dof yang tembus pandang , di dalamnya ada shower dan bath tub. Usai mandi kami lalu memesan makan malam room service, rasanya masih malas untuk cari makan di luar meskipun sempat aku tawarkan pada mama. Setelah bercakap-cakap beberapa saat lalu kami tidur. Rasa letih membuat kami segera terlelap.
Jam menunjukan pukul 1 dinihari ketika aku terbangun karena rasa kebelet. Keadaan kamar gelap kecuali sedikit cahaya lampu tidur.

Aku bergegas ke kamar mandi dan usai menuntaskan hajat kembali ke tempat tidur, namun lampu kamar mandi yang kunyalakan membuat suasana kamar menjadi lebih terang,selagi aku mengesetkan kaki di depan pintu kamar mandi mataku tertuju pada suatu pemandangan, mama yang tengah tertidur dalam posisi menyamping membelakangiku. Suatu hal yang biasa, namun menjadi luar biasa ketika di bagian bawah pinggangnya kimono mama tersingkap hingga menampakan celana dalam putih yang dipakainya, membuaku terpaku sejenak menyaksikannya. Pahanya yang mulus, dan gundukan pantatnya yang tak tertutup sempurna , serta bayangan garis belahan pantat mama, membuat sesuatu bergerak di antara selangkanganku dan mendesak celana pendek yang kupakai.

Pikiran kotor mulai menguasai diriku. Perlahan aku berjalan menuju ranjang, kubiarkan lampu kamar mandi tetap menyala. Kuamati dari dekat pemandangan indah malam itu, dengan gemetar tanganku terjulur mencoba meraba paha mama. Lalu mengelu-elusnya pelan. Kemudian merayap di atas gunungan indah bokong mama, sangat kenyal dan lembut. Batang penisku sudah tak punya toleransi lagi, mengeras tegang menuntut pelampiasan. Sejak dikaruniai anak pertama 4 bulan lalu, aku memang sangat jarang menyalurkan hasrat seksual pada isteri, karena merasa kasihan mengingat lelahnya mengurus buah hati tercinta yang kerap bangun tengah malam, meskipun kami mengupah babysitter, tapi berhubung masih minum ASI mau tak mau isteriku ikut terbangun. Aku berbaring menyamping di belakang mama yang nampak tertidur pulas.

Sedikit demi sedikit ku geser tubuhku makin merapat ke tubuh mama hingga kepala penisku yang masih terbungkus celana menempel di pantat mama. Nafasku tertahan menahan suasana tegang malam itu, tapi nafsu terlanjur menguasaiku, dan aku tak aka mundur. Maka ku turunkan celana pendekku hingga separuh paha, dengan leluasa kini batang ******ku mengusap-usap belahan pantat mama yang masih terbungkus celana dalam itu. Rasa nikmat menjalari setiap centi batang kemaluanku, sampai akhirnya kuputuskan berbuat nekat lebih jauh, ku angkat sedikit tepi bawah celana dalam mama, lalu kuselipkan batang ******ku dibaliknya hingga merasakan langsung kulit pantat mama, membuat rasa nikmat itu semakin menguat, apalagi ditambah lendir pelumas yang keluar dari lubang kencing ku. Ku ayunkan pelan-pelan pinggulku sampai akhirnya aku tak mampu menahan lagi dan terlalu terlambat untuk menarik ******ku...aku mengejang lalu ejakulasi dan dengan pasrah permukaan pantat mama menampung tumpahan spermaku , segera aku mencabut kemaluanku dari balik celana dalam mama yang segera basah kuyub oleh air mani ku yang cukup banyak tertumpah. Sedikit rasa panik muncul dalam hatiku namun ketika memperhatikan mama yang masih nyenyak dengan nafasnya yang teratur membuatku sedikit lega. Lalu tertidur puas setelah merapikan celana.

“Den...Deni..bangun Den”, perlahan mataku membuka dan melihat mama dengan kimono mandinya di hadapanku, mengguncang-guncangkan pundakku.
“heh..iya ma..emmh”, aku bangkit dan menuju kamar mandi. Masih belum hilang kantukku ketika menghidupkan shower untuk mandi. Usai mengeringkan tubuh aku mencoba mencukur dagu dan kumis di depan wastafel, tiba-tiba mataku tertuju ke rak handuk, dan melihat celana dalam putih mama dilampirkan di situ, dalam keadaan basah. Nampaknya mama baru mencucinya. Selintas timbul kekhawatiran jika mama tahu apa yang kulakukan tadi malam, namun kucoba untuk menepisnya. Usai sarapan kami menuju ke rumah sakit, dan kembali pada sore harinya. Sepanjang perjalanan, pikiranku terpaku pada peristiwa tadi malam dan menyusun rencana untuk mengulanginya malam ini.

“mama mandi dulu Den”, ujarnya. Aku mengangguk lalu menyalakan TV. Rasa lelah akibat seharian mengemudi membuatku mengantuk dan tertidur di atas sofa.
“Den..bangun Den, sana mandi”, aku terbangun gelagapan, mama berada dihadapanku masih mendorong-dorong pelan bahuku. Rambutnya terlilit handuk dan tubuhnya terbalut kimono tidur, namun karena posisinya setengah menunduk menampakan pemandangan belahan dadanya yang indah.

“eh...iya ma, sorry ma, ketiduran”,ujarku seraya bangkit menuju kamar mandi. Baru kusadari pintu kamar mandi ini adalah kaca dof yang tembus pandang , di dalamnya ada shower dan bath tub. Usai mandi kami lalu memesan makan malam room service, rasanya masih malas untuk cari makan di luar meskipun sempat aku tawarkan pada mama. Setelah bercakap-cakap beberapa saat lalu kami tidur. Rasa letih membuat kami segera terlelap.
Jam menunjukan pukul 1 dinihari ketika aku terbangun karena rasa kebelet. Keadaan kamar gelap kecuali sedikit cahaya lampu tidur. Aku bergegas ke kamar mandi dan usai menuntaskan hajat kembali ke tempat tidur, namun lampu kamar mandi yang kunyalakan membuat suasana kamar menjadi lebih terang,selagi aku mengesetkan kaki di depan pintu kamar mandi mataku tertuju pada suatu pemandangan, mama yang tengah tertidur dalam posisi menyamping membelakangiku. Suatu hal yang biasa, namun menjadi luar biasa ketika di bagian bawah pinggangnya kimono mama tersingkap hingga menampakan celana dalam putih yang dipakainya, membuaku terpaku sejenak menyaksikannya.

Pahanya yang mulus, dan gundukan pantatnya yang tak tertutup sempurna , serta bayangan garis belahan pantat mama, membuat sesuatu bergerak di antara selangkanganku dan mendesak celana pendek yang kupakai. Pikiran kotor mulai menguasai diriku. Perlahan aku berjalan menuju ranjang, kubiarkan lampu kamar mandi tetap menyala. Kuamati dari dekat pemandangan indah malam itu, dengan gemetar tanganku terjulur mencoba meraba paha mama. Lalu mengelu-elusnya pelan. Kemudian merayap di atas gunungan indah bokong mama, sangat kenyal dan lembut. Batang penisku sudah tak punya toleransi lagi, mengeras tegang menuntut pelampiasan. Sejak dikaruniai anak pertama 4 bulan lalu, aku memang sangat jarang menyalurkan hasrat seksual pada isteri, karena merasa kasihan mengingat lelahnya mengurus buah hati tercinta yang kerap bangun tengah malam, meskipun kami mengupah babysitter, tapi berhubung masih minum ASI mau tak mau isteriku ikut terbangun. Aku berbaring menyamping di belakang mama yang nampak tertidur pulas.

Sedikit demi sedikit ku geser tubuhku makin merapat ke tubuh mama hingga kepala penisku yang masih terbungkus celana menempel di pantat mama. Nafasku tertahan menahan suasana tegang malam itu, tapi nafsu terlanjur menguasaiku, dan aku tak aka mundur. Maka ku turunkan celana pendekku hingga separuh paha, dengan leluasa kini batang ******ku mengusap-usap belahan pantat mama yang masih terbungkus celana dalam itu. Rasa nikmat menjalari setiap centi batang kemaluanku, sampai akhirnya kuputuskan berbuat nekat lebih jauh, ku angkat sedikit tepi bawah celana dalam mama, lalu kuselipkan batang ******ku dibaliknya hingga merasakan langsung kulit pantat mama, membuat rasa nikmat itu semakin menguat, apalagi ditambah lendir pelumas yang keluar dari lubang kencing ku. Ku ayunkan pelan-pelan pinggulku sampai akhirnya aku tak mampu menahan lagi dan terlalu terlambat untuk menarik ******ku...aku mengejang lalu ejakulasi dan dengan pasrah permukaan pantat mama menampung tumpahan spermaku , segera aku mencabut kemaluanku dari balik celana dalam mama yang segera basah kuyub oleh air mani ku yang cukup banyak tertumpah. Sedikit rasa panik muncul dalam hatiku namun ketika memperhatikan mama yang masih nyenyak dengan nafasnya yang teratur membuatku sedikit lega. Lalu tertidur puas setelah merapikan celana.

“Den...Deni..bangun Den”, perlahan mataku membuka dan melihat mama dengan kimono mandinya di hadapanku, mengguncang-guncangkan pundakku.
“heh..iya ma..emmh”, aku bangkit dan menuju kamar mandi. Masih belum hilang kantukku ketika menghidupkan shower untuk mandi. Usai mengeringkan tubuh aku mencoba mencukur dagu dan kumis di depan wastafel, tiba-tiba mataku tertuju ke rak handuk, dan melihat celana dalam putih mama dilampirkan di situ, dalam keadaan basah. Nampaknya mama baru mencucinya. Selintas timbul kekhawatiran jika mama tahu apa yang kulakukan tadi malam, namun kucoba untuk menepisnya. Usai sarapan kami menuju ke rumah sakit, dan kembali pada sore harinya. Sepanjang perjalanan, pikiranku terpaku pada peristiwa tadi malam dan menyusun rencana untuk mengulanginya malam ini.

Sesampainya di hotel, mama segera mandi. Aku membayangkan bagaimana kira-kira tubuh telanjang mama sehingga membuat si junior kembali tegang. Tak berapa lama, mama keluar, dan cukup mengejutkan, mama keluar hanya dengan lilitan handuk, menampakan bahu & pahanya yang putih mulus membuat aku menelan air liur. Tangannya membawa pakaian yang dikenakannya tadi . “Udah sana, mandi Den, kok ngelamun begitu”, ujar mama menyadarkanku, andai dia tahu justeru aku seperti terhipnotis melihat sebagian tubuhnya. Aku beranjak menuju kamar mandi, hmm...celana dalam putih tadi pagi sudah tidak ada di rak handuk, berganti celana dalam berwarna pink yang sepertinya tadi dipakai mama, masih basah bekas dicuci. Malam itu kembali kami tidur bersama, walau aku tak sepenuhnya tidur, tegang menanti situasi yang tepat. Mama tertidur menyamping membelakangiku, ku coba menyingkapkan gaun tidurnya ke atas , inchi demi inchi, centi demi centi sampai pantat bahenolnya kembali tersingkap.

Kembali ku pepetkan tubuhku ke tubuh mama, sampai hidungku menyentuh rambutnya yang hitam terawat dan harum itu. Ku lekatkan batang penisku ke pantat mama, namun tiba-tiba mama berbalik dan berbaring telentang, membuat nafasku seolah terhenti karena terkejut. Tetapi hal itu justeru menghasilkan pemandangan indah lainnya. Gundukan vagina mama dibalut celana dalam krem yang tipis itu, dan yang membuat nafsu berahiku makin terbakar ketika melihat beberapa helai rambut kemaluan mama keluar di tepi bawah celana dalam mama. Di tambah lagi wajahnya yang ayu tengah terpejam tidur dengan mulut setengah terbuka, ayunan nafasnya membuat dadanya yang berisi naik turun, ingin rasanya kulumat bibir mama, namun aku tak segegabah itu.

Ku singkapkan lagi gaun tidur mama sehingga menampakan perutnya yang masih lumayan rata dan putih mulus itu. Ku usap-usap perutnya pelan dengan tangan gemetar, lalu dengan mengumpulkan segenap keberanian mengusap-usap gundukan vagina mama. Nafsuku seolah melewati ubun-ubun, hingga kemudian kuselipkan ******ku dibalik celana dalam mama di sisi pinggulnya, gesekan dengan kulit putih mama yang mulus itu membuatku kembali ejakulasi dan membasahi celana dalam mama. Lalu kembali tertidur dengan rasa puas setelah merapikan pakaian mama. Pagi itu rak handuk itu kembali bertambah penghuni, celana dalam krem mama.

Malam ketiga, tindakanku semakin nekat. Mama sendiri juga membuat sedikit kejutan, kali ini ia memakai gaun tidur tanpa lengan yang cukup sexy, menampakan bahunya yang putih dan sedikit belahan dadanya yang montok itu, apalagi panjangnya sedikit di atas lutut membuat aku semakib berliur. Kutunggu hingga lewat tengah malam, sampai aku yakin bahwa mama benar–benar terlelap. Kini ia tertidur terlentang, sekali lagi inci demi inci kusingkapkan gaun tidurnya ke atas, terus berlanjut secara perlahan hingga kutemukan kejutan berikutnya...mama memakai celana dalam yang cukup mini dan transparan karena dari bahan semacam jaring, tentu saja bayangan hitam bulu-bulu pubisnya nampak jelas, pengikatnya pun tak lebih lebar dari tali sepatu, membuat aku makin senewen, kali in terlintas pikiran jangan-jangan mama memang ingin memancingku, jangan-jangan ia tahu apa yang kulakukan 2 hari terakhir. Tapi rasa takut itu dikalahkan oleh berahi, kali ini secara perlahan kupelorotkan celana dalam itu, masih dengan tangan gemetar hingga melewati ujung jari kakinya. Sungguh pemandangan luar biasa yang bisa membuat gila lelaki manapun. Lalu ku lebarkan kedua kaki mama, selebar munkin, hingga menampakan belahan rongga vaginanya .

Ku putuskan untuk mencicipi aroma dan rasanya, dengan sangat hati-hati aku merangkak hingga wajahku cukup dekat dengan organ kewanitaan mama. Aroma khas wanita bercampur aroma harum sabun mandi segera memenuhi rongga hidungku, dan segera lidahku beraksi mengecap-menjilat-menghisap sampai lambat laun pinggul mama bergerak-gerak ke kanan ke kiri, dan mulutnya mulai bergumam. Ku hentikan sejenak, mama masih nampak terpejam dan tertidur. Kembali kulanjutkan aksiku dan kembali pula pinggul mama bergerak-gerak ke samping dan ...ke atas, seolah-olah menyambut lidahku. Batang penisku kian mendesak celana yang kupakai. Sambil terus menjilati vagina mama, kulepaskan celana pendekku, lalu setengah membungkuk ku arahkan ke mulut liang senggama mama, sempat terjadi peperangan bathin sejenak, antara perasaan bersalah karena menodai mertua sendiri, ibu dari istriku, dan nafsu yang susah diajak kompromi. Antara opsi hanya menggesek-gesekan ******ku di permukaan vaginanya atau benar-benar memasukinya.

Akhirnya kupilih opsi pertama, mula-mula ku gesek-gesekan batang penisku di antara belahan vagina mama, namun melihat reaksi mama yang menggumam dan pinggulnya bergerak-gerak membuat aku mengambil opsi terakhir. Ku arahkan kepala jamur ******ku tepat di mulut vagina mama, lalu mendorong pantat ke bawah, senti demi senti mulai memasukinya, agak sedikit heran mendapati memek mama masih cukup sempit, sehingga upaya senjata biologisku untuk memasukinya agak tersendat, namun perlahan tapi pasti penetrasi itu tejadi sampai akhirnya batang penisku amblas . Kunikmati beberapa saat hangat,sempit dan basah liang vagina mama yang kulihat wajahnya mengernyit, lalu kutarik kebelakang, tetapi memek mama seolah-olah menghisapnya kembali. Terus kulakukan gerakan maju mundur hingga kurasakan liang senggama mama mulai memproduksi cairan pelumas, membuat tusukan-tusukan batang kemaluanku kian lancar.

Suara gesekan dua organ kelamin kian terdengar dipadu rintihan lirih mama yang seperti tengah mengalami mimpi. Ku singkapkan gaun tidur mama hingga melewati behanya , lalu tanganku segera menyibakan mangkuk bra mama hingga payudaranya terbebas dan kini ikut berguncang pelan akibat gerakanku. Mataku berpesta pora menikmati pemandangan indah dua gunung kembar putih mulus dan cukup besar itu dan segera pula tanganku meraupnya dan meremas-remasnya. Aku yang telah berada pada titik tak munkin kembali siap menghadapi apapun reaksi mama. Kepala ibu kandung istriku itu terlempar ke kanan ke kiri dan rintihannya pun kian meninggi, namun kali ini diwarnai isak tangis dan lelehan air mata. Kali ini aku yakin, mama telah tersadar, munkin sedari tadi. “Mama..” panggilku ditengah deru nafas karena mengeluarkan energi menikmati tubuh sintalnya.

Dan sungguh diluar dugaan, mama bukannya marah, namun dengan mata masih tertutup dan berlinangan air mata justru melepaskan sisa pakaian yang masih melekat di tubuhnya, gaun tidur dan BH nya. Lalu kembali merintih-rintih sambil menggigit pelan jari tangannya. Melihat hal itu segera kutindihkan tubuhku di atas tubuh mama, dan memegang wajahnya ku arahkan ke wajahku, matanya membuka sedikit menatapku dengan pandangan misterius, lalu kulumat bibirnya yang merekah.....dan ia membalasnya sehingga lidah kami saling mengecap dan membelit,”mama...”, panggilku, dan mama hanya mengangguk. Membuat ku menambah kecepatan gerakku mengobrak abrik liang vagina tempat asal mula istriku dilahirkan sehingga suara becek dua organ kelamin kian emmenuhi ruangan kamar, tentu saja diiringi melodi rintihan mama dan lenguhanku.

AC kamar hotel itu tak mampu lagi menahan panas tubuh kami berdua, peluh kami saling menyatu dari pergumulan tubuh telanjang aku dan mama. Ku lipat kedua paha mama ke atas hingga lututnya nyaris menyentuh payudaranya, menyebabkan tusukan ******ku kian dalam menghujam liang senggama mama dan membuat mama kian histeris,’’ooouh...Deni...nngnnnh...ennngg”,geraka nku kian ganas dan liar mengobok-obok rongga kemaluan mama sampai kemudia tiba-tiba betis mama memeluk pinggangku dan menarik serta menahannya ke bawah sementara lengannya memeluk punggungku erat-erat,’ooooohh...Deniiii,,aahhhh”, rintihnya setengah memekik melepaskan emosi dari orgasme yang ia alami. Aku terus bergerak pelan di antara kuncian mama yang beberapa saat kemudian kian mengendur, membuatku kembali liar menikmati setiap senti organ kewanitaanya sampai akhirnya biji pelirku mengerut kaku lalu....satu tusukan terakhir ******ku mengantar semburan demi semburan spermaku membanjiri liang senggama mama. Aku lalu rebah di atas tubuh sensual mama mencoba mengatur nafas, mama mengelus-elus punggungku yang bermandikan keringat membisikan kata-kata sayang, bagai gadis muda kepada kekasihnya. Kembali ku lumat bibir mama, sampai krasakan penisku mulai mengecil. Lalu aku beranjak meninggalkan tubuh mama, menyaksikan hasil produksiku segera mengalir keluar dari liang merah merekah di selimuti bulu-bulu jembut itu, menciptakan danau kecil di atas sprei, kemudian berbaring di samping mama. Kami saling memeluk dan memagut bibir masing-masing bak sepasang kekasih yang lama tak bertemu, bukan sebagai menantu dan mertua.

“Maafkan saya, ma”, ujarku membuka percakapan.”ngga Den....maafkan mama juga, mama juga membiarkan hal ini terjadi”, jawabnya. Lalu mama menceritakan segalanya, bahwa selama beberapa hari ini sebenarnya ia tahu apa yang kulakukan, tapi sengaja membiarkannya, karena...mama pun sudah sangat lama tak lagi mendapatkan kepuasan biologis dan bathin, karena papa mertua lebih sibuk dengan usahanya dan tertimpa penyakit pula. Oleh karena itu mama pun menyibukan diri dengan berbisnis. Mama pun bercerita bahwa kerap rekanan bisnisnya yang kebanyakan juga wanita seusiannya kerap memanfaatkan jasa pria-pria muda untuk memuaskan nafsu masing-masing, bahkan mama juga pernah ditawarkan, namun berhasil menahan diri walau dalam satu kesempatan nyaris terjadi, sempat bercumbu dan nyaris disetubuhi ketika tiba-tiba telpon berdering memberi kabar bahwa papa mertua masuk rumah sakit sebelum yang terjadi sekarang. Dan sungguh tak menyangka justru disetubuhi menantunya sendiri, itulah yang membuatnya menangis karena di satu sisi merasa berdosa dengan anak dan suaminya namun di sisi lain hasratnya yang lama terpendam tak bisa ditahan lagi, dan yang ia dapatkan adalah orgasme pertama setelah belasan tahun tak pernah merasakan lagi. Mama sendiri tersipu-sipu ketika ku sanjung-sanjung kecantikan wajah dan kemolekan tubuhnya meski di usianya yang kepala empat dan telah punya cucu.

Kami saling memeluk ,membelai dan saling melumat bibir. Hingga kemudian tanganku mengusap-usap vaginanya dan tangan mama meremas-remas pelan biji pelir dan batang kemaluanku, membuatnya lambat laun kembali tegak perkasa. Dan ronde kedua pun dimulai, kembali spring bed itu berderit-derit dan kamar itu diramaikan suara rintihan mama dan suara kecipak dua organ dibalut lendir saling merasakan kenikmatan masing-masing. Bermacam-macam gaya kami lakukan, mama di atas, aku di bawah, menyamping, doggie style sampai akhirnya mereguk orgasme bersama. Dan kami baru benar-benar kelelahan sampai keempat kalinya melakukan persetubuhan terlarang itu. Aroma sex tercium santer di dalam kamar itu, lalu kami tertidur saling berpelukan dengan kelamin tetap menyatu. Malam itu hubungan kami telah berubah drastis, dari menantu & mertua menjadi sepasang kekasih.

Sinar matahari pagi menyilaukan mataku, dengan setengah mengantuk kucoba mengembalikan memoriku, satu tangan mama masih memeluk dadaku sementara kepalanya bersandar di pangkal lenganku, sebelah kakinya juga masih menimpa sebelah pahaku. Wajahnya nampak cantik sekali dan menunjukan kepuasan, nafasnya teratur menghembuskan hawa hangat di wajahku. Menyadari dipeluk wanita setengah baya yang cantik , dalam keadaan telanjang pula, membuat perabotanku kembali menegang keras. Aku beranjak dengan hati-hati untuk duduk, lalu menyingkirkan selimut sehingga sehingga menampakan tubuh bugil mama yang molek itu. Ku remas-remas pelan payudaranya dan ku betot pelan putingnya, membuat senjata biologis ku kian tak bisa diajak kompromi, lalu aku merangkak ke atas tubuh mama, melebarkan kedua paha mulusnya, dengan perlahan kudorong kepala penisku di antara dua bibir vagina mama.

Agak susah karena cairan pelumas mama belum keluar namun tetap kupaksakan sedikit demi sedikit, wajahnya nampak meringis, lalu perlahan matanya membuka kemudian tersenyum ke arahku, membuatku langsung melumat kembali bibirnya. Mama membalasnya dengan liar, sementara aku terus berupaya menggali kembali lubang kenikmatan itu yang kini mulai memproduksi lendir pelumas sehingga penetrasi penisku kian dalam sampai akhirnya tinggal dua biji pelir yang tertinggal di luar mulut vagina mama. “ouch...Deni...kamu belum puas juga sayang? Unnnghhh’’...rintih mama ketika aku mulai bergerak maju mundur. “belum, mama,,,aku ingin setubuhi mama setiap menit...ahhhss”, jawabku diantara nafas menderu penuh nafsu.”sshh...Den...puaskan mama, unghh..cumbui mama..sayang..oohh.”

Pagi itu kembali ranjang kami berderit-derit akibat gerakan terlarang sepasang manusia terbakar nafsu. Suasana dingin pagi itu tak mampu mencegah keluarnya keringat dari tubuh-tubuh aku dan mama mertua. Aroma sex santer tercium sebelum digantikan hawa pagi. Beberapa saat kemudian ku putar tubuh mama hingga membelakangiku, kuambil sepasang bantal lalu kuletakan di bawah dadanya, dalam posisi menungging, kembali kusetubuhi ibu mertuaku yang cantik itu dari belakang, kembali ia merintih-rintih dengan ributnya sehingga terkadang kuberikan jemariku untuk dihisapnya biar tak terlalu ribut.

Pantatnya yang bahenol itu bergetar akibat tusukan-tusukan ******ku tanpa ampun ke liang senggamanya. “ Ohh Deni...oh Den...ooh..ooh..ahhhhhhhhss”, rintihan panjangnya setengah berteriak dan tubuh sexynya yang tiba-tiba mengejang menandakan mama tengah dilanda orgasme. Sampai belasan detik kemudian kembali melemas dan terguncang-guncang oleh hentakan-hentakanku. Dan semenit kemudian akhirnya kantung pelirku mengeras dan rasa sedikit geli di seputaran leher penisku menghantar datangnya orgasme & ejakulasi ******ku di dalam liang vagina mama.”ooohhhhs.....mamaaa....oooohhhh”, lalu aku jatuh menimpa punggung mama sambil mencoba mengembalikan irama nafas kembali normal.

Kami lalu saling memeluk dan berpagutan cukup lama, sampai kemudian mama berkata,” mandi yuk Den, kita siap-siap berangkat”, “he-eh ma, yuk” jawabku sambil beranjak, lalu menggendong mama, mama tersenyum tersipu malu,’’ah Deni...kamu romantis sekali sayang” lalu mengecup bibir dan wajahku. Lalu kuturunkan tubuh mama di depan bath tub, dengan tanpa sunkan ia jongkok dihadapanku, lelehan spermaku berjatuhan keluar dari vaginanya sebelum diikuti cairan bening kekuningan air seninya yang mengalir deras. Sungguh suatu pemandangan menakjubkan, lalu aku pun ikut berjongkok dan buang air kecil di hadapan mama yang tertawa kecil melihat ulahku.

Lalu kami berdiri dan mulai mandi, saling menyabuni tubuh masing-masing,mengusap-usap dan meremas-remas,,,dan sekali lagi kembali batang kemaluanku menegang ketika digenggam pelan mama dan dikocoknya pelan dengan tangan berlumuran busa sabun. Mama tersenyum dan berkata lirih,’’ Deni...kamu nafsuan banget sih, kok udah berdiri lagi”, “salah mama sih,’’ jawabku,’’salah mama apa?”, tanyanya.”salah mama karena terlalu sexy dan nafsuin, mama harus tanggung jawab nih”, ujarku. Mama tertawa kecil, menyiram tubuhku dengan handy shower sehingga busa-busa sabun luruh, lalu berlutut di hadapanku dengan tetap menggenggam batang penisku,,,dan hap...mama mengulum dan menghisapnya, dipadu kocokan tangan dan jilatan lidahnya. Membuatku menahan nafas menikmati tindakan mama.

Mama terus mengoralku dengan rakus, wajahnya yang cantik penuh nafsu, dan goyangan payudaranya dari sudut pandangku membuatku tak tahan lagi, kuraih tubuhnya, lalu kulumat bibirnya sambil kudorong ke arah shower, kuangkat satu kakinya oleh sebelah tanganku, dan dengan hentakan keras kuhujamkan batang kemaluanku ke dalam liang vaginanya, membuat mama menahan nafas kemudian diikuti oleh rintihannya. Di bawah siraman shower dan dalam posisi berdiri kembali kureguk kenikmatan dari tubuh wanita setengah baya yang telah melahirkan istriku itu, dan sekian menit kemudian ku cabut batang ******ku lalu memutar tubuh mama hingga membelakangiku, untuk kembali kusetubuhi dari belakang. “ooh...Den..mama udah gak tahan...oooooohhh”, demikian rintihnya sebelum tiba-tiba tubuhnya mengejang dan kurasakan vaginanya berdenyut-denyut, membuatku terpacu untuk segera menuntaskan permainan terlarang di kamar mandi itu. Hentakanku kian cepat, membuat payudara mama yang menggiurkan itu berguncang-guncang dahsyat, sangat mubazir jika tak segera kuraup dengan kedua tanganku.

Dan akhirnya...hentakan terakhirku menjadi penghantar semburan-semburan spermaku menyiram mulut rahim mama. Lututku melemas serasa tak mampu menopang tubuhku yang bersandar di atas punggung mama yang setengah membungkuk itu, sampai semenit kemudian kucabut senjata biologisku dari liang senggama mama, menimbulkan suara angin mirip kentut diikuti lelehan cairan putih kental yang terjun bebas ke lantai kamar mandi . Kami melanjutkan mandi, saling menyabuni dan mengusap-usap, sebelum berpakaian dan kembali berangkat ke rumah sakit.

Siang itu kami mendapat kabar bahwa kondisi ayah mertua sudah membaik dan bisa pulang besok, suatu kabar gembira sekaligus kabar buruk...karena affairku dengan mama akan berakhir. Di satu sisi aku sedikit lega bahwa petualangan terlarang ini usai, sebagai manusia normal sedikit banyaknya aku merasa bersalah dan tentu saja menjadi beban psikologis tersendiri, namun ibarat koin...di sisi lain aku merasa kehilangan momen-momen indah bersama ibu kandung istriku itu, yang kini terlanjur ku cintai sebagai kekasih. Mama pun aku yakin merasakan hal yang sama, sepanjang perjalanan ia tampak terdiam dan tak bergairah. “Ma..., mikirin apa sih?,tanyaku memancing. “Kamu tahu apa yang mama pikirkan Den”, jawabnya. “Ya mau bagaimana lagi ma, apapun alasannya apa yang kita lakukan ini salah, kita telah menusuk papa dari belakang ma,” jawabku. “iya...mama juga tahu itu, tapi mama terlanjur cinta sama kamu Den, mama tahu ini perbuatan paling hina di mata orang, tapi perasaan gak bisa bohong,’’ jawab mama...kali ini dengan terisak dan berlinangan air mata. “sssshh....sudah lha ma, kita masih punya waktu sehari kan, tokh kita masih bisa ketemuan di rumah”, jawabku. Mama hanya terdiam dan terisak.

Setibanya di hotel menjelang senja, kami memasuki kamar dengan lesu. Aku duduk di sofa melepaskan sepatu. Mama sendiri berdiri di depan meja rias melepaskan satu per satu kancing blousenya dengan pelan. Wajahnya tertunduk lemah, kilasan payudaranya yang tertutup BH, membuat hasratku bangkit. Aku beranjak mendekati mama, membantu melepaskan bajunya, kini ia berdiri di hadapanku hanya dengan BH dan celana dalam. Wajahnya masih tertunduk, segera kuraih pipinya, kudongakan wajahnya dan dengan segera melumat bibirnya. Mama yang semula tidak bergairah mulai membalasnya, sehingga lidah kami saling membelit.

Segera tanganku melepaskan pengait BH nya dan meloloskannya dari kedua tangannya, payudara yang masih padat berisi itu segera menjadi sasaran dua tanganku. “ohh...Deni...sayang...ohhh”, rintih mama di antara nafas yang tak teratur akibat beradunya dua bibir. Tiba-tiba ia mendorongku, “Den..nanti malam aja ya, mama masih keringetan neh..mandi dulu”, namun aku segera merengkuh kembali tubuh sensualnya, “aku suka keringat mama”, ujarku lalu menciumi celah di antara payudaranya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, menggigiti pelan putingnya, membuat kepala mama terdongak ke atas sambil terus merintih. Kemudian bangkit mengangkat kedua lengannya ke atas kepala, sehingga menanpakan ketiaknya yang putih bersih, lalu kuhirup aroma keringat bercampur parfum di situ yang kian membakar gairahku, mama makin menggelinjang dan merengek-rengek. Bulu-bulu romanya bermunculan.

Ku putar tubuh mama ke arah meja rias, setengah membungkuk tangannya bersandar di atas meja, aku berlutut, menggigiti ringan pantat bahenolnya meninggalkan prasasti gigi geligiku, mama sesekali menjerit ringan dan berganti menjadi rengekan ribut ketika lidahku menjilati permukaan vagina dan anusnya, tubuhnya sesekali mengejang. “Den....mama udah gak tahan...ooohh’’, rintihnya ketika dua jemariku mulai mengorek-ngorek liang kewanitaannya ditemani lidahku yang terus mengecap dan menjilati dua rongga tubuh sebelah bawah mama. Aku bangkit berdiri, tampak bayangan wajah mama yang memerah d icermin, mata menyipit dan mulut setengah terbuka menyiratkan dirinya berada di puncak nafsu. Ku gosokan perlahan batang penisku di antara belahan pantatnya sebelum ku arahkan ke gerbang kenikmatan lubang senggamanya. “oooohhh....nnngg...Deni....ooohh”, mama mulai merintih-rintih ribut mengiringi suara becek dua kelamin beradu.

Wajah mama tampak sayu penuh nafsu dengan jatuhan rambut di sebagian wajahnya, cantik dan sexy sekali ditambah gempa bumi kecil payudaranya yang mengundang tanganku untuk meremasnya. Keringat mulai membanjiri tubuh kami, apalagi ditambah hawa panas kamar karena aku belum sempat menyalakan AC. Meja rias itu turut bergoyang membuat beberapa benda di atasnya terjatuh, berupa beberapa perlengkapan perawatan kulit mama dari merk ternama, salah satunya lotion pelelmbab yang menggelinding di dekat kaki ku, menimbulkan ide untuk mencoba sesuatu yang baru. Sekian menit berlalu sampai akhirnya tubuh mama mengejang lalu berteriak memanggil namaku diikuti denyutan-denyutan dahsyat rongga vaginanya yang mencengkeram batang ******ku. Mama sudah tiba pada puncaknya, sementara aku terus mengayunkan pinggulku menggetarkan pantatnya.

Ku dekap mama dari belakang lalu ku bisikan kata-kata, “ma...aku mau nyobain anus mama”, ujarku, mama yang masih mabuk dengan orgasmenya mengangguk lemah dan menjawab di antara sengal-sengal nafasnya,”pelan-pelan sayang, pake lotion mama, seumur-umur mama belum pernah di anal”, jawabnya. Ku pungut botol lotion itu, ku tuangkan isinya lalu kubalurkan di sepanjang batang penisku, juga di permukaan anus mama, kutusukan jari telunjukku ke dalamnya, mama terdorong ke depan dan mengejang, “ohhs...pelan-pelan Deni”, ujarnya.

Ku tambahkan lotion ke anus mama. “ma...tahan ya, aku masukin nih..”, ujarku di tengah dengusan nafas , mama mengangguk. Dengan perlahan kepala jamur penisku memasuki lubang anus yang masih perawan itu, mama menahan nafas dan merintih. Namun se senti demi se senti terus penetrasi, dan tiap tahap menghasilkan jeritan mama,’’ oouuh...pelan-pelan Den...uhhh...sakiit...ahhh”, tapi akhirnya seluruh batang kemaluanku ambles ditelan lubang anus mama, kunikmati sensasi cengkeraman sempit rongga belakang mama beberapa saat. Wajah mama tampak meringis dan menggigiti jemarinya. Ku tarik penisku keluar dengan pelan, mama kembali setengah berteriak. Dengan menyisakan kepala ******ku di dalam kembali kubaluri lotion di sekujur batangnya.

Lalu kembali ku tusukan ke saluran pembuangan mama. Mama kembali berteriak kesakitan dan gemetar. Ku tarik kembali keluar batang kelaminku,kutusukan lagi, terus dengan eskalasi makin lama makin cepat temponya, reaksi mama mulai relax tak lagi berteriak kesakitan selain mengeluh dan merintih setengah menangis. Cengkeraman anus mama jauh lebih ketat dibanding vaginanya.

Aku terus mendesak-desakan penisku ke saluran anal mama, keringat kami kian membanjiri tubuh, punggung mama berkilauan tertimpa cahaya lampu. Ku pegang pangkal lengannya, lalu kudorong mama berjalan ke arah kamar mandi tanpa penisku meninggalkan anusnya, sesekali berhenti untuk ku ayun-ayunkan pinggulku menyetubuhi mama yang pasrah menuruti hasratku. Tepat di dalam kamar mandi, setelah beberapa kali hentakan menjelang tibanya klimaks, kucabut batang ******ku, ku putar tubuh mama hingga menghadapku lalu kupaksa berlutut...dan srrt...srttt..srrtt..srrt, cairan spermaku menyembur hinggap di wajah mama dan payudaranya, mama tampak gelagapan menerima kejutan malam itu, munkin ini adalah pengalaman pertama juga sepanjang kehidupan seksualnya. “mmmhhh...Deni...kamu nakal banget sih...abis dah badan dan muka mama kamu kerjain”, jawabnya setelah habis orgasme ku.

Ku papah ia untuk bangkit, lalu ku nyalakan shower untuk membasuh wajahnya. Setelah itu kami kembali mandi bersama sambil bercumbu. Usai makan malam, selanjutnya bisa ditebak....kami menghabiskan waktu yang tersisa bagai pengantin baru...bersetubuh, istirahat sebentar dengan bercakap-cakap, lalu bercumbu, kembali saling menggapai kenikmatan seksual, seterusnya hingga lewat tengah malam baru tertidur. Apakah hubungan terlarang ini akan berakhir esok?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar